ASPOST.ID- Di tengah duka yang masih membekas akibat banjir yang melanda Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada akhir tahun 2025 lalu, secercah harapan mulai tumbuh bagi puluhan anak yang terdampak bencana. Sebanyak 30 anak dari keluarga korban banjir resmi memulai lembaran baru kehidupan dengan menempuh pendidikan di Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah, Gampong Lhok Mon Puteh-Blang Poroh, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Minggu (5/7/2026).

Didampingi orang tua dan keluarga, anak-anak tersebut tiba di kompleks dayah dengan membawa harapan baru. Mereka disambut langsung oleh Pimpinan Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah, Tgk. H. Abubakar Ismail, yang akrab disapa Abati, sekaligus Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Lhokseumawe.

Suasana haru terasa ketika satu per satu santri baru menjalani prosesi peusijuek (tepung tawar), sebuah tradisi adat Aceh sebagai simbol doa, keberkahan, dan awal perjalanan hidup yang lebih baik. Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya langkah baru mereka setelah melewati masa sulit akibat bencana.

Bagi anak-anak korban banjir, memasuki lingkungan pendidikan bukan sekadar melanjutkan sekolah. Lebih dari itu, mereka memperoleh kesempatan untuk bangkit, membangun kembali kepercayaan diri, serta menata masa depan melalui pendidikan Islam yang menanamkan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan pembentukan karakter.

Abati mengatakan, Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah memberikan perhatian khusus kepada keluarga korban banjir sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

“Untuk santri korban banjir pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), kami memberikan pembebasan biaya SPP, biaya makan, serta uang pembangunan. Kami ingin memastikan musibah yang mereka alami tidak menjadi penghalang untuk memperoleh pendidikan yang layak,” ujar Abati.

Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang tangguh. Karena itu, dayah berupaya menghadirkan solusi nyata bagi anak-anak yang terdampak bencana agar tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani persoalan ekonomi.

Sementara itu, penerimaan santri baru dari berbagai jenjang pendidikan lainnya, mulai dari Salafiyah, Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT), dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 7 Juli 2026. Seluruh proses penyambutan dan orientasi telah dipersiapkan agar para santri dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar secara nyaman.

Menurut Abati, setiap santri yang menempuh pendidikan di Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah tidak hanya dibekali pemahaman agama, tetapi juga dididik menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, berintegritas, serta memiliki jiwa kepemimpinan.

“Dayah bukan hanya tempat menuntut ilmu agama. Di sini karakter dibentuk, akhlak ditempa, kepemimpinan dilatih, dan tanggung jawab ditanamkan. Kami berkomitmen melahirkan generasi Islam yang berilmu, berakhlakul karimah, serta mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman,” katanya.

Di balik musibah banjir yang sempat merenggut kenyamanan hidup mereka, kini terbuka jalan baru menuju masa depan. Bagi puluhan anak Aceh Utara itu, gerbang Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah bukan sekadar pintu masuk ke dunia pendidikan, melainkan gerbang harapan untuk mengubah masa depan melalui ilmu, iman, dan akhlak.(*)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version

Error occurred