ASPOST.ID- Mahasiswa Lhokseumawe yang melakukan aksi demo kehilangan momentum besar, akibat terjadi kerusuhan dan pengerusakan kaca depan gedung DPRK Lhokseumawe, pada Senin (12/9).
“Ketika kita datang kesebuah institusi bahkan berhadapan dengan negara, orang tidak akan pernah tanya kepada kita seberapa besar kebenaran yang kau bawa dipundakmu, tapi seberapa besar kekuatan (massa) yang kau miliki,”ungkap Mantan Aktivis Teuku Fazil Mutasar, dalam keterangannya kepada awak media, Selasa (13/9).
Disebutkan, jika tidak terjadi kerusuhan, mahasiswa bisa menyampaikan tuntutan kepada pemerintah dengan jelas serta bisa menarik simpati masyarakat untuk mendukung mahasiswa seperti yang terjadi di Korea.
“Saya juga tidak tau tuntutan apa yang mereka ingin sampaikan karena sudah rusuh duluan. Saya taunya mereka demo masalah kenaikan BBM itupun dari media sosial,”ucapnya.
“Untuk mengumpulkan massa sebanyak kemarin itu sulit, jadi bagi saya kemarin mahasiswa telah menyia-nyiakan momentum besar yang mereka punya untuk hal-hal yang tidak penting,”terangnya lagi.
Menurut Teuku Fazil Mutasar, yang menjadi viral kemarin adalah pemecahan kaca, mahasiswa yang naik ke atas mobil water canon dan polisi yang terkena lemparan batu, bukan substansi dari unjuk rasa.
“Andaikan kemarin jika tidak terjadi kerusuhan, mahasiswa bisa berdialog dua arah dengan DPRK terkait imbas naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) yaitu inflasi,termasuk dengan Pj.Walikota Lhokseumawe, mahasiswa berhak juga mendengar strategi dari pemerintah dalam hal ini politik anggaran 2023 yang bisa menekan inflasi di Lhokseumawe. Harusnya substansi itu kemarin yang diutamakan,”katanya.
Selain itu, ia berharap kedepan kepada mahasiswa saat berunjuk rasa agar jangan mau terprovokasi dengan hal-hal seperti kemarin, karena kalian akan kehilangan momentum untuk menarik simpati rakyat. (asp)


