ASPOST.ID- Minggu pagi di Kota Kutacane kini tak lagi berjalan biasa. Saat cahaya matahari perlahan menembus kabut tipis yang menggantung di kaki Pegunungan Lauser, denyut kehidupan mulai terasa dari Lapangan Pemuda di kawasan Kumbang Jaya, Kecamatan Babussalam.

Ruang terbuka yang sempat kehilangan gaungnya itu kini kembali hidup. Anak-anak berlarian di tepi lapangan, para ibu mengikuti senam massal dengan irama musik yang riang, sementara pemuda dan pelajar memadati lintasan jogging yang mengitari kawasan. Di sejumlah sudut, warga tampak duduk santai menikmati kopi pagi dan berburu jajanan kuliner rakyat yang mulai memenuhi area lapangan.

Di tengah keramaian itu, antrean warga terlihat tertib di pos pelayanan kesehatan gratis. Ada yang memeriksa tekanan darah, berkonsultasi ringan dengan tenaga medis, hingga sekadar memastikan kondisi tubuh mereka tetap prima.

Pemandangan tersebut kini menjadi wajah baru setiap akhir pekan di Aceh Tenggara sejak Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara menggulirkan program Car Free Day (CFD) sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali ruang publik daerah.

Lapangan Pemuda yang beberapa tahun terakhir nyaris kehilangan aktivitas sosial perlahan menjelma menjadi pusat interaksi masyarakat. Bukan hanya arena olahraga, kawasan itu kini tumbuh sebagai ruang sosial, pusat ekonomi rakyat, hingga simbol gaya hidup sehat warga Kutacane.

Di tengah aktivitas warga, Bupati Aceh Tenggara, H. Muhammad Salim Fakhry, hampir selalu hadir secara langsung. Dengan pakaian olahraga sederhana, ia tampak berjalan menyapa masyarakat, mengikuti senam bersama, hingga memantau layanan kesehatan gratis yang disediakan pemerintah daerah.

Bagi Salim Fakhry, kebangkitan Lapangan Pemuda bukan sekadar revitalisasi fasilitas umum. Lebih dari itu, ia melihat ruang publik sebagai medium membangun kembali budaya kebersamaan masyarakat Aceh Tenggara.

“Kita ingin masyarakat punya ruang untuk hidup sehat, berkumpul, dan menikmati kotanya sendiri. Lapangan Pemuda ini bukan hanya tempat olahraga, tetapi ruang kebersamaan masyarakat Aceh Tenggara,” ujar Salim Fakhry.

Menurutnya, pemerintah daerah sengaja menghadirkan kegiatan rutin setiap Minggu agar masyarakat memiliki akses mudah terhadap olahraga, hiburan rakyat, dan layanan kesehatan.

Ia meyakini ruang publik yang aktif mampu melahirkan energi positif bagi daerah sekaligus memperkuat hubungan sosial antar warga.

“Kalau masyarakat sehat, aktif, dan bahagia dengan ruang publiknya, itu juga bagian dari pembangunan daerah. Kita ingin Lapangan Pemuda kembali menjadi kebanggaan masyarakat,” katanya.

Kebangkitan kawasan tersebut juga tidak lepas dari peran Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Aceh Tenggara yang menjadi motor penggerak berbagai kegiatan di Lapangan Pemuda.

Kepala Disporapar Aceh Tenggara, Bakri Saputra, mengatakan program CFD dirancang bukan sekadar agenda seremonial mingguan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang membangun budaya hidup sehat sekaligus menghidupkan kembali ruang publik yang sempat redup.

“Dulu lapangan ini sempat kurang aktif. Sekarang kita coba hidupkan kembali melalui olahraga, kegiatan sosial, hingga pemberdayaan UMKM. Respons masyarakat sangat luar biasa,” ujar Bakri Saputra.

Menurutnya, antusiasme warga terus meningkat dari pekan ke pekan. Selain olahraga dan senam massal, layanan kesehatan gratis menjadi salah satu daya tarik utama yang paling diminati masyarakat.

“Masyarakat bukan hanya datang untuk olahraga, tetapi juga memanfaatkan layanan kesehatan gratis. Ini penting agar kesadaran menjaga kesehatan tumbuh sejak dini,” katanya.

Tidak hanya menghadirkan ruang sehat, Lapangan Pemuda kini juga berkembang menjadi pusat ekonomi kerakyatan baru di Aceh Tenggara. Puluhan pelaku UMKM mulai memadati kawasan setiap akhir pekan dengan menjual aneka makanan, minuman, hingga produk lokal khas daerah.

Bagi sebagian pedagang kecil, ramainya aktivitas di Lapangan Pemuda membawa harapan baru setelah sebelumnya kawasan tersebut nyaris kehilangan denyut ekonomi.

Kini, setiap Minggu pagi, Lapangan Pemuda bukan lagi sekadar ruang terbuka di tengah kota. Ia telah berubah menjadi simbol kebangkitan ruang publik Aceh Tenggara, tempat masyarakat bertemu, bergerak, sehat, dan membangun optimisme baru tentang kota yang mereka tinggali.(adv)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version