ASPOST.ID- Langit senja di Kutacane perlahan menggelap, sementara cahaya keemasan dari kubah masjid memantul lembut di antara hiruk pikuk warga yang bergegas menuju saf salat. Sejak awal Ramadhan, satu titik di jantung Kabupaten Aceh Tenggara menjadi magnet spiritual sekaligus sosial: Masjid Agung At-Taqwa.
Di tempat inilah denyut Ramadhan terasa paling hidup. Tradisi meugang yang menandai kedatangan bulan suci menjadi pembuka rangkaian ibadah panjang, sebelum akhirnya jamaah memadati masjid pada malam pertama tarawih. Anak-anak, remaja, hingga orang tua datang berbondong-bondong, memenuhi ruang utama hingga halaman. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, menyatukan ratusan kepala dalam kekhusyukan yang sama.
Bagi banyak warga, Ramadhan di At-Taqwa bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan pengalaman batin yang selalu dirindukan. Rahmad (38), salah seorang jamaah, mengaku hampir tak pernah absen singgah setiap kali berada di kota ini. Ia menyebut suasana kebersamaan di masjid tersebut memberi rasa hangat yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Tarawih di sini terasa lebih hidup. Banyak kegiatan, banyak silaturahmi. Rasanya Ramadhan benar-benar terasa,” ujarnya.
Secara visual, masjid ini juga menyuguhkan daya tarik tersendiri. Arsitekturnya memadukan gaya Islam klasik dengan sentuhan ornamen Alas–Gayo, mempertegas identitas lokal Tanah Alas. Kubah emas dan menara tinggi menjadikannya penanda kota sekaligus simbol kebanggaan masyarakat.
Namun Ramadhan di At-Taqwa tak berhenti pada dimensi spiritual. Setiap sore menjelang berbuka, kawasan sekitar masjid berubah menjadi ruang ekonomi rakyat. Deretan pedagang takjil, kuliner tradisional, hingga pelaku UMKM memenuhi sisi jalan. Aroma gorengan, kolak, dan kopi bercampur dengan obrolan hangat pembeli.
Momentum ini, menurut Kepala Dinas Pariwisata setempat, Bakri Saputra, menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan mampu menggerakkan ekonomi warga secara nyata. Ia menilai masjid tersebut berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata religi yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat.
“Ramadhan membuktikan perputaran ekonomi meningkat. Ini peluang besar untuk wisata religi berbasis kearifan lokal,” katanya.
Letak Aceh Tenggara yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Leuser turut memperkuat daya tarik itu. Tak sedikit pengunjung dari luar daerah memadukan ibadah dengan wisata alam, menjadikan Kutacane sebagai simpul perjalanan spiritual sekaligus ekowisata.
Menjelang sepuluh malam terakhir, suasana semakin khidmat. Jamaah bertahan lebih lama untuk i’tikaf, tadarus, dan doa malam. Masjid seakan tak pernah benar-benar sepi.
Di tengah gemerlap aktivitas tersebut, pengurus masjid terus mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan ketertiban, agar rumah ibadah ini tetap nyaman bagi semua.
Pada akhirnya, Masjid Agung At-Taqwa bukan hanya bangunan megah di pusat kota. Ia telah menjelma menjadi ruang pertemuan iman, tradisi, dan harapan tempat masyarakat Tanah Alas menjemput maghfirah, sekaligus menumbuhkan denyut kehidupan bersama selama Ramadhan. (adv)
