ASPOST.ID- Upaya mempercepat transformasi digital di daerah terus didorong Pemerintah Kota Lhokseumawe. Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, melakukan audiensi strategis dengan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, di Jakarta, Senin (4/5/2026), guna memperkuat fondasi menuju kota cerdas (smart city) yang terintegrasi dan berbasis teknologi mutakhir.

Pertemuan tersebut tidak sekadar seremoni birokrasi, melainkan menjadi ruang konsolidasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam merespons tantangan nyata digitalisasi di kawasan industri dan pendidikan di Aceh. Hadir pula sejumlah pejabat Kementerian Komunikasi dan Digital, di antaranya Sekretaris Ditjen Ekosistem Digital Aryo Pamoragung, Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Mulyadi, serta Direktur Akselerasi Teknologi Pemerintah Digital Daerah Aris Kurniawan.

Dalam forum itu, Sayuti Abubakar memaparkan bahwa pengembangan Lhokseumawe sebagai smart city masih menghadapi kendala struktural, terutama keterbatasan fiskal daerah yang berdampak langsung pada pembangunan infrastruktur teknologi informasi. Di sisi lain, kebutuhan konektivitas yang andal kian mendesak, seiring aktivitas industri migas dan dinamika perguruan tinggi yang terus berkembang.

Ia menekankan pentingnya kehadiran jaringan 5G sebagai tulang punggung operasional industri modern, termasuk dalam mendukung aktivitas eksploitasi migas yang membutuhkan sistem kontrol berteknologi tinggi dan presisi.

“Keandalan infrastruktur digital bukan lagi pilihan, tetapi menjadi standar utama dalam menjaga keberlanjutan produksi industri,” ujar Sayuti.

Lebih jauh, Pemko Lhokseumawe juga menempatkan penguatan dan integrasi command center sebagai prioritas strategis. Sistem ini diharapkan mampu mengintegrasikan layanan publik, meningkatkan keamanan kota, hingga mendukung pengambilan kebijakan berbasis data secara real-time.

Di tengah dorongan transformasi tersebut, Lhokseumawe juga membidik pengembangan ekosistem ekonomi digital. Sayuti menilai, potensi kota sebagai pusat industri dan pendidikan harus diiringi dengan lahirnya generasi technopreneur lokal yang mampu menciptakan inovasi, bukan sekadar menjadi konsumen teknologi.

“Ke depan, kami ingin anak-anak muda Lhokseumawe menjadi pelaku utama dalam ekosistem digital membangun startup, menciptakan solusi, dan membuka lapangan kerja baru,” katanya.

Namun, tantangan di lapangan masih cukup kompleks. Pemerintah kota mencatat kualitas layanan 4G di sejumlah gampong belum optimal, terutama pasca bencana hidrometeorologi yang berdampak pada infrastruktur jaringan. Selain itu, masih terdapat wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau layanan digital, baik untuk administrasi pemerintahan maupun aktivitas ekonomi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, pihak Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan komitmennya untuk melakukan evaluasi menyeluruh serta pemantauan berkala terhadap kualitas jaringan di daerah. Langkah ini diharapkan dapat memastikan pemerataan akses digital sekaligus meningkatkan kualitas layanan di seluruh wilayah Lhokseumawe.

Dalam diskusi juga terungkap bahwa layanan digital berbasis EVO telah menjangkau empat kecamatan, meskipun implementasinya belum merata di seluruh gampong. Kondisi ini menjadi catatan penting dalam agenda percepatan digitalisasi daerah.

Ke depan, pengembangan ekosistem digital Lhokseumawe akan diarahkan secara lebih komprehensif melalui pembangunan cloud ecosystem, penguatan konektivitas data, serta pengembangan ruang kreatif (creative space) dan pusat inovasi digital (digital innovation hub) berbasis kolaborasi lintas sektor.

Langkah ini diyakini tidak hanya mempercepat transformasi digital, tetapi juga memperkuat kesiapan sumber daya manusia lokal dalam menghadapi era ekonomi berbasis teknologi.

Sebagai tindak lanjut, kedua pihak menyepakati sejumlah langkah strategis, mulai dari percepatan pembangunan jaringan 5G, penguatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), integrasi command center, hingga digitalisasi gampong dan pengembangan startup lokal.

Di akhir pertemuan, Sayuti menegaskan bahwa transformasi digital harus bermuara pada manfaat konkret bagi masyarakat.

“Transformasi digital ini harus dirasakan langsung oleh masyarakat baik dalam pelayanan publik yang lebih cepat, peluang ekonomi yang lebih luas, maupun kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya. (asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version