Walau Wabah Covid-19, Makmeugang Tradisi Masyarakat Aceh yang Tak Terlupkan

Daging Makmeugang di Aceh

Bulan ramadhan bagi masyarakat Aceh dipandang sebagai pangule buleun (raja dari segala bulan). Begitu juga dihari-hari bulan Ramadhan dikenal dengan uroe get, buleun get (hari baik, bulan baik). Sebelum masuk bulan ramadhan itu, diawali dengan tradisi uroe makmeugang atau uroe siemusi (hari memotong hewan) oleh masyarakat Aceh.

Makmeugang bagi masyarakat Aceh sudah menjadi tradisi sejak lama. Dirumah-rumah warga dari 23 kabupaten/kota di Aceh, harus ada masakan daging sebagai lauk. Baik itu daging sapi maupun daging kerbau. Tentunya, bagi rakyat Aceh daging makmeugang merupakan makanan spesial, yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Sebagian dari suka cita menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Aceh merayakan dengan tradisi memasak daging lembu/kerbau. Selain itu, ibu-ibu rumah tangga juga mempersiapkan makanan khas Aceh berupa timphan, leumang dan ketupat.  Tradisi hari meugang itu di Aceh sudah menjadi budaya yang tidak dapat dipisahkan saat menyambut bulan ramadhan, hari raya idul fitri dan hari raya idul adha.

Saat hari makmeugang tiba, para ibu rumah tangga bersama keluarganya mulai sibuk mengumpulkan dan meracik bumbu masakan. Seperti untuk masakan daging rendang, kuah putih, kuah merah, daging goreng, daging panggang dan masakan lainnya. Tidak hanya itu, uroe makmeugang kini menjadi pembicaraan hangat masyarakat Aceh seperti dimeunasah, warung kopi dan disetiap rumah tangga. Umumnya, yang dibicarakan adalah harga daging meugang yang dijual dipasar. Namun, jika harga daging mahal saat meugang, tradisi yang sering dilakukan yakni daging yang dibeli secara angsuran (sie meuripe).  Hal itu sudah sering dilakukan masyarakat Aceh, membeli daging tanpa membayar didepan tapi bisa pembayaran secara angsuran.

Walaupun, saat ini tradisi makmeugang menjelang puasa Ramadhan 1441 Hijriah/2020, Aceh dan Indonesia sedang dilanda wabah virus Wabah Covid-19, tapi masyarakat Aceh tetap membeli daging meugang ke pasar. Suasana pasar seperti biasa, meskipun pemerintah melarang menjual daging meugang di Pasar untuk menghindari kerumulan masyarakat yang berdesak-desakan di pasar, sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Corona.

“Bagi kita orang Aceh, tradisi makmeugang itu sering diartikan sebagai kehormatan dan kegagahan laki-laki atau suami,”ucap Ismail  (45) salah seorang warga Lhokseumawe, kepada Rakyat Aceh, kemarin. Menurut dia, jika seorang suami atau anak laki-laki (sudah kerja,red) tidak dapat membawa pulang daging meugang kerumah, rasanya tidak berani pulang. Apalagi, di hari meugang itu semua rumah warga di Aceh baik kaya maupun miskin tercium masakan daging meugang.

Akan tetapi, sangat sedih jika tidak ada keluarga yang tidak dapat membawa pulang daging makmuegang ke rumah. “Dulu saya pernah tidak ada uang untuk membeli daging meugang, sehingga terpaksa berutang kepada teman, agar istri, anak dan orang tua bisa menikmati daging meugang,”ucapnya. Terlebih lagi, anak yang masih usai sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, menjelang meugang itu pasti menanyakan berapa kilogram ayah membeli daging meugang. “Jika kita tidak sanggup membeli daging muegang, pasti sangat sedih rasanya karena rumah tetangga kita tidak tercium masakan daging,”katanya. Sehingga berbagai upaya harus dilakukan, asal bisa membawa pulang daging meugang, walaupun hanya satu kilo atau setengah kilo.

Lain halnya yang disampaikan Rasyid  (50) warga Muara Dua Lhokseumawe. Menurutnya, seorang istri atau ibu rumah tangga akan merasa malu dan sedih jika ia tidak memasak daging meugang untuk keluarganya. Namun, sebaliknya seorang istri akan berbangga hati dan bahagia apabila mereka bisa menghidangkan daging meugang sebagai menu untuk makanan siang. Padahal, mereka rela berlama-lama didapur demi memasak daging meugang tersebut.

Sementara bagi laki-laki yang baru menikah menjelang bulan ramadhan ini, tradisi makmeugang bisa menjadi hari yang paling spesial buat istrinya, orang tua serta mertuanya. Dan bisa menjadi hari yang memalukan jika tidak dapat membawa pulang daging makmeugang kerumah. Bahkan, dalam tradisi masyarakat Aceh dikenal jika sebuah keluarga sudah mempunyai menantu laki-laki maka kewajiban untuk membawa pulang daging makmeugang berada dipundaknya. Karena tradisi makmeugang dalam menyambut bulan suci Ramadhan merupakan sebuah refleksi kegagahan pria Aceh dihadapan istri dan keluargnya.

Tentunya, makmeugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan sebagai upaya untuk mensyukuri datangnya bulan Ramdhan yang penuh berkah. Tradisi makmeugang secara jelas telah menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh mengapresiasi dirinya menyambut hari-hari besar Islam. Tradisi ini, juga telah mempererat relasi sosial dan kekerabatan di sesama masyarakat. Dengan demikian, masyarakat Aceh pada hari itu disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memperoleh daging, memasak, dan menikmatinya secara bersama-sama keluarga.

Pentingnya tradisi makmeugang ini, seolah-olah jadikan sebagai perayaan dan menjadi sebuah kewajiban budaya bagi masyarakat di Provinsi Aceh. Pada hari makmeugang itu, akan berlangsung pertemuan silaturrahmi sesama keluarga di rumah dan saudara yang baru saja pulang dari perantauan. Terlebih lagi, hari-hari biasa masyarakat Aceh hanya menikmati lauk pauk dari darat ,sungai dan laut. Namun, ketika menyambut hari makmeugang dapat dirasakan kebahagian dan paling istimewa bagi masyarakat Aceh, karena dapat menikmati hindangan daging sapi atau kerbau.

Dari zaman dahulu hingga sekarang, kebiasaannya bagi orang-orang kaya dan mampu di Aceh saat hari makmeugang itu, membagikan daging sapi kepada fakir miskin. Hal itu dilakukan sebagai salah satu cara untuk memberikan sedekah dan membagikan sedikit kekayaannya bagi yang tidak mampu. Tentunya, tradisi itulah yang masih sering dilakukan oleh sebagian orang-orang kaya di Aceh. Dan mengundang anak yatim kerumah untuk dapat menikmati daging makmeugang, seperti anak-anak lain yang masih punya orang tua. Itu semua dilakukan, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat rezeki selama dalam setahun yang diberikan oleh Allah SWT. 

Semoga Covid-19 yang melanda dunia, Indonesia dan Aceh segera berakhir, dengan datangnya bulan suci Ramadhan, sebagai bulan untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada Allah. (ra/asp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here