ASPOST.ID – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi forum permusyawaratan organisasi, tetapi juga menghadirkan potret kuat gotong royong masyarakat. Lebih dari 12.000 porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) disalurkan untuk mendukung kebutuhan konsumsi para muktamirin selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Program tersebut digerakkan Tim Koordinasi dan Akselerasi MBG bersama dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Penanggung jawab program MBG selama Muktamar ke-35 NU, Gus Ulun, mengatakan ribuan makanan tersebut merupakan bentuk dukungan Tim Koordinasi dan Akselerasi MBG serta SPPG yang berada di bawah naungan PBNU.
“Untuk sistem distribusinya akan didistribusikan ke beberapa titik yang diatur oleh tim kami bersama PCNU Jombang. Setiap hari kami membagikan sekitar 3.000 kotak,” ujar Gus Ulun dalam keterangan yang diterima aspost.id, pada Sabtu (29/8).
Distribusi dilakukan melalui dua mekanisme. Sebagian makanan diantar langsung ke sejumlah posko, sementara muktamirin juga dapat mengambil MBG secara langsung di posko PCNU Jombang.
Pola tersebut diterapkan agar penyaluran makanan dapat menjangkau peserta muktamar yang tersebar di berbagai titik kegiatan.
Penyaluran MBG telah dimulai sejak 26 Agustus 2026, sehari sebelum Muktamar ke-35 NU resmi berlangsung pada 27 Agustus. Program ini dijadwalkan mendukung kebutuhan konsumsi hingga rangkaian muktamar berakhir pada 31 Agustus 2026.
PCNU maupun PWNU yang membutuhkan dukungan MBG untuk posko masing-masing juga dipersilakan berkoordinasi dengan panitia melalui kanal resmi SPPG Nahdlatul Ulama.
Gotong Royong Warga Jadi Energi Muktamar
Di balik pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, semangat gotong royong masyarakat sekitar turut menjadi perhatian.
Ketua Panitia Pelaksana (Organizing Committee/OC) Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyebut kepedulian warga Jombang menjadi salah satu bentuk keberkahan dalam penyelenggaraan muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas.
Menurutnya, dukungan masyarakat datang secara sukarela. Warga tidak hanya memberikan bantuan berupa kebutuhan pangan, tetapi juga datang membawa beragam bahan makanan untuk mendukung para peserta dan kiai yang hadir.
“Ada warga yang datang menyumbang beras, ada yang membawa sayur, ada pula yang membawa kambing bahkan sapi. Mereka datang tanpa diminta, memberi tanpa ingin disebut,” kata Gus Ipul.
Ia menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa kekuatan NU tidak semata-mata bertumpu pada struktur organisasi atau besarnya jumlah anggota. Lebih dari itu, terdapat kekuatan sosial yang tumbuh dari kecintaan, khidmat, gotong royong, dan keikhlasan warga.
“Di situlah kekuatan Nahdlatul Ulama terasa. Bukan semata-mata kekuatan struktur, bukan hanya kekuatan jumlah, tetapi kekuatan cinta, khidmat, gotong royong dan keikhlasan,” ujarnya.
Semangat tersebut dinilai menjadi bagian penting dari suasana Muktamar ke-35 NU yang sejak awal diharapkan berlangsung dalam suasana gembira, penuh kebersamaan, sekaligus membawa keberkahan.
Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut membahas berbagai agenda organisasi sekaligus arah kebijakan NU untuk periode mendatang.(asp)

