“Membangun Masyarakat yang Membaca, Berpikir, Bertindak, dan Menciptakan Masa Depan”
ASPOST.ID- Aceh bukan sekadar wilayah dengan sejarah panjang. Aceh adalah salah satu ruang penting dalam sejarah peradaban Islam, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan kekuatan politik di Asia Tenggara.
Pada masa Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai salah satu puncak kejayaannya. Aceh tampil sebagai kekuatan regional yang diperhitungkan, menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional, serta berkembang sebagai salah satu pusat keilmuan dan kebudayaan Islam.
Namun, sejarah tidak seharusnya berhenti sebagai kebanggaan yang terus-menerus diceritakan.
Sejarah harus menjadi cermin untuk mengevaluasi masa kini, sekaligus menjadi energi untuk merancang masa depan.
Pertanyaan yang lebih relevan bagi Aceh hari ini bukan sekadar “Seberapa besar kejayaan masa lalu kita?”, melainkan:
“Seberapa serius kita belajar dari masa lalu untuk menciptakan kejayaan baru?”
Sebab sebuah masyarakat tidak akan maju hanya karena memiliki sejarah yang besar. Masyarakat akan maju ketika mampu memahami zamannya, membaca perubahan, mengambil keputusan, dan menciptakan solusi.
Di sinilah transformasi cara berpikir masyarakat Aceh menjadi penting.
Dari Watching Society: Jangan Berhenti sebagai Penonton
Kita sedang hidup dalam era yang dapat disebut sebagai watching society masyarakat yang semakin banyak menonton, tetapi belum tentu semakin banyak melakukan.
Kita menonton berita.
Menonton media sosial.
Menonton kehidupan orang lain.
Menonton keberhasilan orang lain.
Menonton perdebatan politik.
Bahkan, kita sering menonton berbagai persoalan yang terjadi di sekitar kita.
Namun, persoalan sebenarnya bukanlah seberapa banyak yang kita tonton.
Persoalannya adalah:
Setelah menonton, apa yang kita lakukan?
Ketika terjadi persoalan, kita memberikan komentar.
Ketika seseorang berhasil, kita memberikan pujian.
Ketika terjadi kegagalan, kita mencari kesalahan.
Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan, kita mengkritik.
Semua itu tidak salah. Kritik bahkan merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Tetapi masyarakat tidak boleh berhenti pada komentar.
Kita perlu bergerak dari pertanyaan:
“Siapa yang salah?”
menuju pertanyaan yang lebih produktif:
“Apa yang bisa saya lakukan?”
Sebab masyarakat yang hanya menjadi penonton cenderung reaktif. Ia bergerak setelah masalah muncul, bukan mempersiapkan diri sebelum masalah datang.
Aceh membutuhkan perubahan mentalitas dari penonton menjadi pelaku.
Menuju Reading Society: Membaca Lebih dari Sekadar Teks
Langkah berikutnya adalah membangun reading society masyarakat yang menjadikan membaca, belajar, dan memperluas pengetahuan sebagai budaya hidup.
Membaca tidak boleh dimaknai sebatas membaca buku agama atau buku pelajaran.
Kita harus membaca ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sejarah, kesehatan, geopolitik, pertanian, pendidikan, ekonomi digital, lingkungan, dan perkembangan dunia.
Namun, lebih jauh dari itu, kita juga harus belajar membaca realitas.
Membaca peluang.
Membaca perubahan zaman.
Membaca kebutuhan masyarakat.
Membaca kekuatan dan kelemahan Aceh.
Membaca arah ekonomi dunia.
Membaca perkembangan teknologi.
Membaca perubahan geopolitik.
Bangsa yang tidak membaca akan kesulitan memahami perubahan.
Dan masyarakat yang tidak memahami perubahan akan selalu berada dalam posisi sebagai pengikut.
Karena itu, budaya membaca harus kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh: di rumah, sekolah, pesantren, kampus, kantor, masjid, perpustakaan, dan ruang-ruang publik.
Membaca membuka pintu pengetahuan. Pengetahuan melahirkan pemahaman. Pemahaman melahirkan keputusan. Dan keputusan yang tepat dapat melahirkan perubahan.
Pesan Iqra’ bacalah yang menjadi awal wahyu kepada Rasulullah SAW, juga mengandung pesan penting tentang pentingnya ilmu dan proses belajar.
Karena itu, membaca semestinya tidak berhenti pada aktivitas memperoleh informasi. Membaca harus berujung pada memahami, mengamalkan, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Dari Reading Society Menuju Realist Society
Namun, membaca saja belum cukup.
Pengetahuan tanpa kemampuan melihat realitas dapat melahirkan optimisme yang kosong. Karena itu, Aceh membutuhkan tahap berikutnya: realist society masyarakat yang berani melihat kenyataan secara jernih.
Kita harus mampu melihat Aceh apa adanya.
Aceh memiliki kekayaan alam.
Memiliki sumber daya manusia.
Memiliki sejarah yang besar.
Memiliki tradisi Islam yang kuat.
Memiliki posisi geografis yang strategis.
Dan memiliki generasi muda yang potensial.
Tetapi pada saat yang sama, Aceh juga menghadapi persoalan yang tidak boleh ditutupi oleh romantisme sejarah.
Kemiskinan harus dilihat sebagai persoalan nyata.
Pengangguran harus dihadapi secara serius.
Kualitas pendidikan harus dievaluasi secara objektif.
Produktivitas ekonomi harus diukur.
Kualitas sumber daya manusia harus terus diperbaiki.
Ketergantungan ekonomi harus dikurangi.
Tata kelola pemerintahan harus diperkuat.
Korupsi harus dilawan.
Ketertinggalan teknologi harus diakui dan diatasi.
Kita tidak dapat membangun masa depan hanya dengan mengatakan:
“Aceh pernah hebat.”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Apa yang harus kita lakukan agar Aceh kembali memiliki daya saing dan kejayaan di zamannya?”
Inilah perbedaan antara masyarakat yang hidup dalam nostalgia dengan masyarakat yang belajar dari sejarah.
Belajar dari Era Sultan Iskandar Muda
Ketika membicarakan kejayaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda, kita jangan hanya melihat luas wilayah, kekuatan militer, atau kebesaran politiknya.
Yang jauh lebih penting adalah semangat membangun peradaban.
Kejayaan tidak lahir hanya karena seorang pemimpin.
Kejayaan lahir ketika pemimpin, ulama, intelektual, saudagar, petani, masyarakat, dan generasi muda memiliki orientasi yang sama terhadap masa depan.
Aceh pada masa itu terhubung dengan jaringan perdagangan internasional dan berinteraksi dengan berbagai kawasan dunia.
Artinya, masyarakat Aceh pada masa tersebut tidak hidup dalam keterisolasian.
Mereka berdagang.
Mereka belajar.
Mereka membangun jaringan.
Mereka mengembangkan ilmu.
Mereka memperkuat institusi.
Mereka membaca perubahan politik dan ekonomi dunia.
Dengan kata lain, Aceh tidak menjadi besar karena hanya mengenang masa lalu. Aceh menjadi besar karena mampu membaca zamannya dan bertindak berdasarkan kebutuhan zamannya.
Spirit inilah yang perlu kita hidupkan kembali.
Bukan dengan mengulang masa lalu, melainkan dengan mengambil pelajaran dari masa lalu untuk menjawab tantangan masa kini.
Dari Realist Society Menuju Proactive Society
Tahap paling penting dari transformasi masyarakat adalah menjadi proactive society—masyarakat yang tidak menunggu persoalan membesar sebelum bergerak.
Masyarakat proaktif tidak hanya bertanya:
“Apa masalahnya?”
Tetapi juga:
“Apa solusinya?”
Jika pendidikan lemah, kita membangun budaya belajar.
Jika ekonomi lemah, kita menciptakan usaha dan memperkuat produktivitas.
Jika anak muda menganggur, kita meningkatkan keterampilan dan membuka ruang kewirausahaan.
Jika teknologi berkembang, kita belajar menguasainya.
Jika dunia berubah, kita mempersiapkan diri sebelum perubahan itu menjadi ancaman.
Jika lingkungan terancam, kita bergerak sebelum kerusakan menjadi lebih besar.
Jika investasi datang, kita mempersiapkan sumber daya manusia agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku dan penerima manfaat.
Inilah mentalitas yang perlu ditanamkan kepada generasi muda Aceh:
Jangan hanya menunggu kesempatan. Ciptakan kesempatan.
Jangan hanya mencari pekerjaan. Ciptakan pekerjaan.
Jangan hanya mengkritik masalah. Bangun solusi.
Jangan hanya menjadi penonton perubahan. Jadilah pelaku perubahan.
Ulama, Umara, Akademisi, Dunia Usaha, Media, dan Rakyat Harus Bergerak Bersama
Transformasi Aceh tidak mungkin dibebankan hanya kepada pemerintah.
Pemerintah memiliki tanggung jawab.
Ulama memiliki tanggung jawab.
Akademisi memiliki tanggung jawab.
Dunia usaha memiliki tanggung jawab.
Media memiliki tanggung jawab.
Dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab.
Aceh memiliki kekuatan besar dalam tradisi Islam. Karena itu, nilai-nilai Islam tidak seharusnya berhenti pada seremoni dan slogan.
Nilai agama harus diterjemahkan menjadi kejujuran, amanah, disiplin, etos kerja, kepedulian sosial, kecintaan terhadap ilmu, produktivitas, dan keberanian memperbaiki keadaan.
Kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya religius secara simbolik, tetapi juga unggul dalam ilmu, kuat dalam akhlak, produktif dalam karya, dan berani menghadapi perubahan.
Sebab kemajuan sebuah daerah tidak hanya dapat diukur dari banyaknya gedung yang dibangun atau panjang jalan yang diperlebar.
Kemajuan pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusianya.
Generasi Muda adalah Penentu Arah Masa Depan Aceh
Aceh tidak akan mampu membangun masa depan yang kuat apabila generasi mudanya hanya menjadi konsumen informasi.
Generasi muda harus didorong menjadi produsen pengetahuan, teknologi, bisnis, karya, dan solusi.
Anak muda Aceh harus memiliki keberanian untuk membaca buku, menguasai bahasa asing, memahami teknologi digital, mempelajari ekonomi, melakukan penelitian, membangun usaha, serta membangun jaringan dengan dunia internasional.
Dunia hari ini semakin terbuka.
Seorang anak muda di Aceh dapat membangun perusahaan yang melayani pasar global.
Seorang mahasiswa Aceh dapat menghasilkan penelitian yang memberi manfaat bagi masyarakat dunia.
Seorang petani dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
Seorang pengusaha dapat membawa produk lokal Aceh ke pasar internasional.
Persoalannya bukan lagi apakah peluang itu tersedia.
Persoalannya adalah apakah kita memiliki kesiapan untuk mengambil peluang tersebut.
Aceh Harus Berhenti Menjadi Penonton
Karena itu, transformasi masyarakat Aceh harus bergerak dalam sebuah tahapan yang jelas:
Watching Society → Reading Society → Realist Society → Proactive Society
Dari menonton menjadi membaca.
Dari membaca menjadi memahami.
Dari memahami menjadi berpikir.
Dari berpikir menjadi bertindak.
Dari bertindak menjadi menghasilkan.
Dan dari menghasilkan menjadi membangun peradaban.
Perubahan tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia dapat dimulai dari satu keluarga.
Satu sekolah.
Satu pesantren.
Satu kampus.
Satu gampong.
Satu organisasi.
Satu perusahaan.
Kemudian berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas.
Sebab perubahan besar hampir selalu dimulai dari perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Aceh Tidak Kekurangan Sejarah, Aceh Membutuhkan Masa Depan
Kita tidak kekurangan cerita tentang kejayaan masa lalu.
Kita tidak kekurangan pahlawan.
Kita tidak kekurangan warisan sejarah.
Yang kita perlukan adalah generasi yang mampu mengubah warisan sejarah menjadi inspirasi untuk menciptakan masa depan.
Sultan Iskandar Muda adalah bagian dari masa lalu Aceh.
Namun, keberanian, ilmu, visi, disiplin, integritas, dan semangat membangun peradaban yang melekat pada masa tersebut harus menjadi nilai yang hidup dalam generasi Aceh hari ini.
Jangan sampai generasi mendatang hanya bertanya:
“Mengapa Aceh pernah menjadi bangsa yang besar?”
Sebaliknya, biarlah suatu hari mereka bertanya:
“Bagaimana generasi Aceh pada abad ke-21 mampu membawa Aceh menjadi masyarakat yang maju, berilmu, bermartabat, produktif, inovatif, dan disegani?”
Jawabannya harus dimulai dari kita hari ini.
Bukan besok.
Bukan ketika semua keadaan sudah sempurna.
Tetapi sekarang.
Berhenti hanya menonton.
Mulailah membaca.
Beranilah melihat realitas.
Kemudian bergerak secara proaktif.
Karena masa depan Aceh tidak akan berubah hanya dengan harapan.
Masa depan Aceh berubah ketika manusianya berubah.
Dari penonton menjadi pembaca.
Dari pembaca menjadi pemikir.
Dari pemikir menjadi pelaku.
Dari pelaku menjadi pencipta solusi.
Dan dari pencipta solusi menjadi pembangun peradaban.
Aceh pernah menjadi pusat kekuatan dan peradaban.
Kini saatnya Aceh tidak hanya mengenang kejayaan Sultan Iskandar Muda, tetapi melahirkan “Iskandar Muda” generasi baru—bukan dalam bentuk seorang tokoh semata, melainkan sebagai karakter manusia Aceh: berilmu, berakhlak, berani, disiplin, produktif, inovatif, adaptif, dan proaktif.
Sebab kejayaan Aceh masa depan tidak akan lahir dari nostalgia terhadap masa lalu, tetapi dari keberanian generasinya menciptakan sejarah baru.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, mencintai ilmu, memperbaiki diri, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Aceh memiliki sejarah yang besar.Kini, tugas kita adalah memastikan Aceh juga memiliki masa depan yang besar. (*)
Penulis: Hasbi Yahya
Pengamat Kebijakan Publik

