ASPOST.ID- Ribuan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menggelar ziarah akbar yang berujung pada prosesi sumpah massal di kompleks makam Tgk. Dr. Hasan Muhammad di Tiro, deklarator GAM, serta makam Pahlawan Nasional Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman di Gampong Meureue, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (26/3/2026).

Kegiatan yang diikuti eks pejuang dari wilayah Samudera Pasee, Kuta Pase, dan Aceh Rayeuk ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting dari kalangan eks kombatan dan elite politik Partai Aceh. Hadir di antaranya Ketua KPA Wilayah Samudera Pasee Pon Yaya, Ketua KPA Wilayah Kuta Pase Ableh Kandang, Ketua KPA Wilayah Aceh Rayeuk Aduen Muchlis, serta sejumlah petinggi KPA/Partai Aceh.

Sejumlah pejabat daerah juga tampak menghadiri kegiatan tersebut, termasuk Anggota DPRA Muharuddin, Ketua DPRK Aceh Utara Arafat Ali, Wakil Bupati Aceh Utara Tarmizi Panyang, dan Wakil Wali Kota Lhokseumawe Saini Pom, anggota DPRK Aceh Utara, Tajuddin, serta para anggota legislatif lainnya.

Ziarah berlangsung khidmat dengan doa bersama di pusara tokoh-tokoh penting Aceh. Namun, perhatian publik tertuju pada prosesi sumpah massal yang dilakukan ribuan eks kombatan. Dalam suasana penuh emosional, para peserta berdiri rapat sambil bergandengan tangan sebagai simbol solidaritas.

Dua orang di barisan terdepan memegang Al-Qur’an sebagai dasar sumpah, sementara seorang pemandu memimpin pembacaan ikrar yang diikuti serentak oleh seluruh peserta. Ikrar tersebut menegaskan komitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak Aceh serta mendorong pemenuhan kewajiban pemerintah pusat sebagaimana tertuang dalam MoU Helsinki.

Suasana semakin menguat ketika sejumlah peserta mengibarkan bendera bulan bintang yang merujuk pada Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 seraya meneriakkan yel-yel “Merdeka” dan “Allahu Akbar” secara berulang. Momen tersebut terekam dalam sejumlah video dan foto yang beredar luas di media sosial.

Dalam sambutannya, sejumlah tokoh KPA dan Partai Aceh mengajak para eks kombatan untuk terus menjaga kekompakan dan memperkuat solidaritas dalam mengawal cita-cita perjuangan Aceh di tengah dinamika politik saat ini.

Aksi ini dinilai sebagai ekspresi kolektif eks kombatan dalam merawat ingatan sejarah sekaligus mengingatkan kembali komitmen damai pasca konflik. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga mencerminkan bahwa implementasi butir-butir perjanjian damai masih menjadi isu strategis yang terus diperjuangkan.

Dengan kehadiran tokoh politik dan pejabat daerah, kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mengandung dimensi historis dan politik yang kuat merefleksikan kesinambungan antara warisan perjuangan Aceh dan arah kebijakan pemerintahan saat ini. (asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version