ASPOST.ID – Aliansi Mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar aksi Mimbar Bebas bertajuk “Indonesia Krisis” di depan Gerbang Kampus Bukit Indah, Senin (22/06/2026). Aksi tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus pernyataan sikap mahasiswa terhadap berbagai persoalan nasional yang dinilai semakin menunjukkan krisis keberpihakan terhadap rakyat.

Berlangsung selama beberapa jam, mimbar bebas diisi dengan orasi, pembacaan puisi, pertunjukan musik, serta teater jalanan yang menggambarkan keresahan mahasiswa terhadap kondisi sosial, politik, lingkungan, dan pendidikan di Indonesia.

Dalam pernyataannya, Aliansi Mahasiswa Unimal menilai bahwa di tengah berbagai klaim keberhasilan pembangunan yang terus digaungkan pemerintah, masyarakat masih dihadapkan pada beragam persoalan mendasar. Ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, ancaman terhadap demokrasi, lambannya penanganan pasca-bencana, hingga kasus kekerasan seksual yang belum tuntas dinilai menjadi potret nyata krisis yang sedang dihadapi bangsa.

“Pertumbuhan ekonomi tidak boleh menjadi tirai yang menutupi persoalan rakyat. Ketika ketidakadilan masih terjadi, ruang demokrasi semakin menyempit, dan suara masyarakat kerap diabaikan, maka kritik harus terus disuarakan,” ujar Amrita Zanur salah satu peserta aksi dalam orasinya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti sejumlah isu strategis nasional. Salah satunya terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai masih membutuhkan pengawasan ketat, transparansi anggaran, serta evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas pelaksanaannya. Mahasiswa menegaskan bahwa setiap program yang menggunakan dana publik harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat.

Aliansi Mahasiswa Unimal juga menyatakan penolakan terhadap keterlibatan Universitas Malikussaleh dalam pengelolaan Program MBG. Menurut mereka, kampus harus tetap fokus menjalankan fungsi utama pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta menjaga independensinya dari kepentingan politik praktis maupun proyek pemerintah.

Selain itu, mahasiswa menyoroti pentingnya menjaga supremasi sipil dan mengingatkan agar militer tetap berfokus pada fungsi pertahanan negara. Mereka menilai prinsip-prinsip reformasi yang telah diperjuangkan sejak 1998 harus terus dijaga demi memastikan demokrasi berjalan secara sehat dan berkelanjutan.

Di bidang lingkungan, mahasiswa mengecam berbagai praktik eksploitasi sumber daya alam yang dinilai terus mengorbankan ruang hidup masyarakat. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, degradasi wilayah pesisir, hingga konflik agraria disebut sebagai konsekuensi dari model pembangunan yang lebih mengutamakan keuntungan ekonomi dibanding keberlanjutan lingkungan.

Aksi tersebut juga menyoroti persoalan pasca-bencana di Aceh yang hingga kini dinilai masih menyisakan berbagai pekerjaan rumah. Mahasiswa mendesak pemerintah untuk mempercepat proses rehabilitasi, pemulihan infrastruktur, dan pemenuhan hak-hak masyarakat terdampak bencana.

Tidak kalah penting, Aliansi Mahasiswa Unimal mendesak penyelesaian seluruh kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus secara transparan, adil, dan berpihak kepada korban. Mereka menegaskan bahwa institusi pendidikan harus menjadi ruang yang aman serta tidak boleh mentoleransi segala bentuk kekerasan.

Menurut mahasiswa, berbagai isu yang disuarakan dalam mimbar bebas tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni melemahnya keberpihakan terhadap kepentingan rakyat. Karena itu, mereka menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga fungsi kontrol sosial dan menjadi bagian dari upaya memperjuangkan keadilan.

Melalui aksi “Indonesia Krisis”, Aliansi Mahasiswa Unimal juga mengajak generasi muda untuk tidak bersikap apatis terhadap persoalan bangsa. Mereka menegaskan bahwa perubahan hanya dapat lahir dari keberanian untuk berpikir kritis, menyuarakan kebenaran, dan terlibat aktif dalam kehidupan demokrasi.

Ketika ketidakadilan dinormalisasi, maka perlawanan menjadi kewajiban. Ketika suara rakyat diabaikan, mahasiswa harus berbicara lebih keras. Indonesia membutuhkan keberanian untuk memperjuangkan keadilan, demokrasi, dan masa depan yang lebih baik,” demikian seruan yang disampaikan dalam penutupan aksi. (asp)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version

Error occurred