ASPOST.ID- Masyarakat Kota Lhokseumawe bersama jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh memperingati 1.243 tahun wafat Imam Syafi’i yang dirangkaikan dengan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh ke-12, di Pendopo Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i, Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Rabu (14/1).

Kegiatan keagamaan tersebut turut dihadiri unsur Pemerintah Kota Lhokseumawe, Muspika Kecamatan Muara Dua, di antaranya Kapolsek Muara Dua Ipda Yudira Nugraha, Camat Muara Dua Faisal, tokoh masyarakat, serta jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i dari berbagai wilayah.

Pimpinan Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh, Tgk. Ahmad Fuadi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan wafat Imam Syafi’i rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab. Hal ini karena Imam Syafi’i wafat pada akhir bulan Rajab, yang juga bertepatan dengan hari proklamasi berdirinya Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh.

Menurutnya, Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh diproklamasikan di Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, oleh Syaikhuna Abati Banda Dua Tgk. H. Usman Ibni Abdilah, dengan tujuan menghidupkan kembali warisan keilmuan dan spiritual peninggalan Sultan Malikussaleh.

“Tujuan utama Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i adalah memperbaiki moral dan akhlak masyarakat agar tidak hidup dalam kejahilan, melainkan hidup dengan ilmu agama,” ujar Tgk. Ahmad Fuadi.

Ia menambahkan, gerakan ini juga dimaksudkan untuk membantu pemerintah dengan menyediakan acuan tarbiyah Islamiyah yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat, mengingat pemerintah memiliki kewenangan dan kemampuan dalam pelaksanaannya.

“Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1947, Abuya Hasan Krueng Kale telah menyerahkan acuan tarbiyah ini sebagai aset rohani Republik Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tgk. Ahmad Fuadi mengingatkan bahwa Aceh akan terus berada dalam kondisi kegelisahan apabila tidak kembali kepada acuan keislaman peninggalan Sultan Malikussaleh. Hal serupa, menurutnya, juga berlaku bagi Indonesia jika tidak kembali kepada nilai-nilai perjuangan para Wali Songo.

“Oleh karena itu, saya menghimbau dan menekankan kepada pemerintah agar menjalankan kembali acuan peninggalan Sultan Malikussaleh sebelum terlambat, karena penyesalan selalu datang setelah kejadian,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh umat Islam untuk terus menuntut ilmu agama agar dapat beribadah kepada Allah SWT dengan benar sesuai tuntunan agama.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh juga menyambut Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan menggelar dakwah Islamiyah yang disampaikan oleh Abi Nasruddin Punteuet, yang berlangsung khidmat dan penuh antusiasme jamaah. (red)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version