ASPOST.ID – Delapan abad perjalanan Samudera Pasai kembali menjadi perhatian publik seluruh Aceh. Peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai Aceh Utara melalui Piasan Pasai tidak hanya menghadirkan suasana perayaan sejarah, tetapi juga mempertemukan para pemimpin daerah, tokoh masyarakat, akademisi, Forkopimda, dunia usaha hingga berbagai elemen strategis dari penjuru Aceh.
Salah satunya tertuju pada kehadiran Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal bersama Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal yang hadir langsung dalam pembukaan Piasan Pasai di pelataran Kantor Bupati Aceh Utara, Senin malam (7/9).
Kehadiran dua pimpinan Kota Banda Aceh itu menjadi pesan kuat bahwa warisan Samudera Pasai tidak berhenti sebagai cerita sejarah milik Aceh Utara. Jejak kerajaan Islam tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban Aceh dan Nusantara yang memiliki nilai strategis untuk terus diperkenalkan kepada generasi sekarang.
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh disambut langsung Ulee Nanggroe Samudera Pasai H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang juga Bupati Aceh Utara, bersama Wakil Ulee Nanggroe Samudera Pasai Tarmizi Panyang selaku Wakil Bupati Aceh Utara serta unsur Forkopimda Aceh Utara.
Bupati Aceh Utara menyampaikan apresiasi atas kehadiran pimpinan Kota Banda Aceh dan para undangan yang datang dari berbagai daerah. Menurutnya, partisipasi lintas kabupaten/kota memperlihatkan bahwa momentum 800 tahun Samudera Pasai memiliki arti penting bagi Aceh secara keseluruhan.
Piasan Pasai juga dihadiri Bupati Pidie Sarjani, perwakilan Pemerintah Aceh, istri Gubernur Aceh, Ketua DPRA Zulfadhli yang membuka Piasan Pasai Milad 800 Samudera Pasai, serta sejumlah tokoh masyarakat dan elemen strategis lainnya.
Turut hadir Tim Satgas PRR Aceh, Dr. Imran, jajaran Pemerintah Aceh, Forkopimda Aceh Utara, TNI/Polri, Kejaksaan, MPU, para kepala daerah atau perwakilannya dari berbagai kabupaten/kota, pimpinan perguruan tinggi, Bank Indonesia, Bank Aceh, kalangan perbankan, BUMN, BUMD hingga sektor swasta.
Delapan Abad Samudera Pasai, Lebih dari Sekadar Perayaan
Peringatan 800 tahun Samudera Pasai menjadi momentum untuk kembali menempatkan sejarah sebagai bagian penting dalam pembangunan masa kini.
Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam awal di Asia Tenggara yang memiliki posisi penting dalam jaringan perdagangan, perkembangan Islam serta pertukaran budaya di kawasan Nusantara.
Karena itu, peringatan delapan abad Samudera Pasai dinilai tidak seharusnya berhenti pada seremoni. Warisan sejarah tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber pengetahuan, kekuatan kebudayaan sekaligus potensi ekonomi baru bagi Aceh.
Mulai dari pendidikan sejarah, riset dan pengembangan kebudayaan, pariwisata sejarah, ekonomi kreatif hingga diplomasi kebudayaan, jejak Samudera Pasai memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan.
“Di tengah perubahan zaman, menghidupkan kembali jejak Samudera Pasai juga berarti membangun kesadaran bahwa Aceh memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari jaringan peradaban dunia,” ujar Ayah Wa.
Menurutnya, momentum 800 tahun Samudera Pasai harus menjadi titik tolak untuk menjadikan sejarah bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan Aceh.
Kehadiran pimpinan Banda Aceh bersama para kepala daerah, tokoh dan perwakilan berbagai kabupaten/kota semakin memperkuat pesan tersebut.
Samudera Pasai bukan semata-mata milik satu wilayah. Warisannya merupakan bagian dari memori kolektif Aceh yang perlu dirawat, diteliti, dikembangkan dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dari Jejak Sejarah Menuju Masa Depan
Delapan abad Samudera Pasai pada akhirnya bukan sekadar angka yang menandai perjalanan panjang sejarah.
Di balik peringatan tersebut tersimpan peluang untuk mengubah warisan masa lalu menjadi energi pembangunan masa depan—mulai dari kebudayaan, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif hingga penguatan identitas Aceh di tingkat nasional dan internasional.
“Di balik perayaan tersebut terdapat peluang untuk menjadikan warisan sejarah sebagai energi baru bagi Aceh, mulai dari kebudayaan, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif hingga penguatan identitas Aceh di tingkat nasional dan internasional,” terang Ayah Wa.
Piasan Pasai dan Milad ke-800 Samudera Pasai pun menjadi lebih dari sekadar agenda mengenang masa lalu. Momentum tersebut membuka kembali ruang bagi Aceh untuk melihat sejarahnya sendiri sebagai modal besar dalam menatap masa depan.
Delapan ratus tahun Samudera Pasai bukan hanya tentang kejayaan yang pernah tercatat dalam sejarah, tetapi tentang bagaimana warisan itu kembali dihidupkan dan diberi makna baru bagi generasi Aceh hari ini dan masa yang akan datang. (asp)

